WANDERER

I AM

image
Hello,

I'm Silvia Mareta

A Bachelor of Communication from Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Graduated at September 2016. Now I am a Certified Google Partner and a Campaign Manager at DGPro Digital Agency. Can be defined as self-motivated, hard worker, easy going, confident individual, fast learner yet adapt quickly in any situation. I also willing to learn and improving any kind of skills. can work as team or individually. Tight deadlines isn't a problem.


Education
University of Jenderal Soedirman

Bachelor of Communication

Google Academy Ads

Digital Marketer

Senior High School 5 Purwokerto

Science


Experience
Campaign Manager

DGPro Digital Agency

Sales Executive

Java Heritage Hotel

Public Relation Intern

Banyumas Government


My Skills
Design
Public Relation
Branding
Marketing

Coordinator Registration

Mata Najwa On Stage Purwokerto

Creative Team

Pekan Seni Soedirman

Foreign Affair

ESOF UNSOED

Public Relation

Kue Lapis Himakom

WHAT CAN I DO

Graphic Design

Create a lot of new ideas for branding logos, or any others graphic works

Copywritting

Writting an unbreathtaking story, and share unpredictable yet unique ideas

Public Relation Strategy

Analyzing, developing and conduct public relation strategies to build your company as a good and execellent company

Marketing

Analyzing, developing and conduct any marketing activities so your company will growth faster

Photographic

Take a lot of fabulous photos and makes your feed more attractive

Branding

Creating and developing fresh and unique ideas to improve your brand

SOME OF WORK

Parkir Prabayar

Pernahkan Anda merasa kesal ketika sedang berpergian menggunakan motor atau mobil dan harus membayar parkir tetapi si Tukang Parkir justru malas untuk mengatur jalanan agar kita bisa berjalan? Pernahkah Anda berpikir bahwa uang parkir yang kita bayarkan dan tanpa tanda bukti berupa karcis bisa benar-benar masuk dalam pendapatan daerah? Atau Anda justru berpikir bahwa uang parkir yang Anda bayarkan justru memperkaya si Tukang Parkir? Pernahkah Anda berpikir uang yang Anda keluarkan untuk parkir jika diakumulasikan dalam sebulan bisa untuk membeli sesuatu yang lebih Anda butuhkan?

Kita tidak bisa menyalahkan tukang parkir karena mereka juga sama seperti kita yang berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Tapi bagaimana dengan tukang parkir yang hanya mau menerima uang tanpa mau membantu menyeberangkan atau menjaga kelancaran lalu lintas? Malah kadang menambah kemacetan jalanan?

Bisa kita bayangkan pendapatan tukang parkir dalam seharinya tanpa harus menyetorkannya ke pemda. Seharusnya pemerintah bertindak tegas terhadap parkir nakal di daerah-daerah dengan menetapkan tarif standar parkir dan memastikan uang yang diterima oleh tukang parkir sebagian benar-benar masuk dalam kantong pemda dan digunakan sebagai sumber dana untuk memperbaiki fasilitas umum. Dengan penggunaan karcis mungkin bisa sebagai tolak ukur jumlah uang masuk yang diterima pemda. Mungkin dengan sistem 80% untuk tukang parkir dan 20% untuk pemda bisa bermanfaat bagi keduanya.

Bagaimana dengan tukang parkir yang mendapatkan pemasukan sedikit? Mereka bisa saja merugi dengan hal tersebut. Untuk menghindari hal tersebut, saya memiliki sebuah terobosan terbaru yaitu dengan memanfaatkan parkir prabayar.

Parkir prabayar adalah salah satu bentuk pembayaran parkir seperti kita mengisi pulsa. Kita mengisi saldo untuk kartu parkir sesuai kebutuhan tanpa jangka waktu. Mulai dari nominal Rp 20.000,00 sampai Rp 100.000,00. Setiap pergi kita hanya perlu menunjukkan kartu parkir kepada petugas parkir, kemudian tukang parkir akan memberikan karcis kepada kita yang ditulisi nomor kartu parkir kita. Dan secara otomatis saldo dalam kartu prabayar kita akan berkurang. Lalu bagaimana dengan kendaraan yang kita gunakan? Kendaraan yang kita gunakan akan diberi sticker dengan hologram khusus yang menandakan bahwa kita adalah pengguna parkir prabayar. Dengan tarif untuk motor Rp 1000,00 dan mobil Rp 2000,00.

Jika saldo kartu prabayar kita habis, kita bisa mengisi ulangnya dengan membelinya di toko-toko seperti penjualan voucher pulsa ataupun token listrik.

Bagaimana dengan nasib penghasilan tukang parkir dengan menggunakan sistem kartu prabayar? Para tukang parkir menukarkan karcis yang berisi catatan nomor kartu parkir tadi dengan sejumlah uang di kantor desa atau pemda setempat. Dengan perhitungan peruntungan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk tukang parkir tersebut.

Well, setidaknya dengan solusi parkir prabayar ini, mengurangi kekhawatiran kita akan uang yang telah kita bayarkan kepada tukang parkir. Setidaknya uang yang telah kita bayarkan untuk parkir bisa benar-benar masuk ke kas daerah sehingga bisa membantu dalam upaya pembangunan dan perbaikan fasilitas umum. Tapi jangan lupa, segala ide yang ada tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya mufakat, kerja sama dan kejujuran dalam pelaksanaannya.


Laris manisnya Teknologi Karena Budaya

Sudah bukan rahasia umum lagi jika saat ini teknologi telah merubah perilaku, kebudayaan bahkan pola pikir masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah masyarakat berkembang. Kemudahan teknologi dan masuknya kebudayaan dari Negara lain tidak jarang disalahartikan oleh masyarakat Indonesia. Karena kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia tentang pentingnya menyaring informasi atau pun hal-hal baru yang diterima. Hal ini seolah-olah sudah membudaya didalam diri masyarakat Indonesia sehingga budaya secara tidak langsung juga mempengaruhi dan mendorong berkembangnya teknologi.
Kali ini saya akan membahas tentang kaitan cultural study  dengan perkembangan teknologi komunikasi yang ada di Indonesia. Dengan latar belakang masyarakat Indonesia yang kebanyakan adalah masyarakat berkembang dan dengan tingkat kesadaran yang tergolong rendah cocok sebagai objek sebuah penelitian yang berdasar pada cultural study. Mengapa perlu diadakan cultural study dalam mempelajari teknologi komunikasi? Dan apa sesungguhnya cultural study tersebut? Semuanya akan saya coba jelaskan dalam esai kali ini.
Mengutip ucapan Hall tentang cultural studies, ”cultural studies is not and never has been one thing, but that doesn’t not mean that it is anything and everything” (Hall, 1990: 11). Cultural study sejatinya melihat sesuatu hal yang berkaitan dengan teknologi tidak hanya dari satu sisi tetapi dari sudut pandang lain yang memiliki keterkaitan lain dengan teknologi. Bagaimana suatu teknologi mampu mempengaruhi dan merubah pola kehidupan seseorang atau bahkan suatu masyarakat. Karena teknologi bukan hanya sekedar perangkat, teknik, dan sistem yang biasa kita mengerti sebagai teknologi tapi juga memiliki suatu tujuan tertentu yang akan ditenun menjadi sebuah tekstur eksistensi sehari hari.
Cultural studies adalah mengenai hal-hal interdisiplin, transdisiplin, dan kadang antar disiplin. (1992: 4). Cultural studies melakukan study tentang segala bentuk seni, kepercayaan, institusi dan praktek komunikatif di dalam masyarakat. (1992: 4). Cultural studies secara sederhana tidak hanya sebagai sebuah catatan-catatan tentang perubahan budaya melainkan sebagai sebuah intervensi di dalamnya (1992: 5). Dengan kata lain, cultural studies tidak hanya mencatat perubahan yang ada seperti imitasi yang dilakukan oleh anak muda tetapi meneliti lebih dalam tentang bagaimana pengalaman seseorang tentang suatu hal, terutama teknologi dapat merubah mereka. Bukan tentang apa yang merubah mereka melainkan bagaimana hal tersebut mampu merubah mereka.
Teknologi saat ini juga tidak luput dari penelitian cultural studies karena teknologi dapat berkembang di suatu masyarakat tidak terlepas dari adanya dorongan kebudayaan masyarakat itu sendiri sehingga memperkuat kehadiran teknologi di dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian tak terhapuskan dari budaya modern. (Winner, 1986:12), mustahil jika diantara teknologi dan kebudayaan tidak saling mempengaruhi satu sama lain, keduanya terefleksikan dari budaya dan kondisi perkembangan budaya yang lebih lanjut.
Contoh nyata yang ada disekitar kita adalah mudahnya teknologi atau bahkan kebudayaan dari Negara lain masuk ke dalam keseharian masyarakat dan diterima bahkan seolah-olah menjadi kebutuhan serta kewajiban yang harus dimiliki oleh orang Indonesia. Bisa kita lihat dari banyaknya pengguna jejaring sosial di Indonesia dan Indonesia menjadi pasar utama penjualan gadget, terutama Blackberry. Seperti yang kita tahu, di pasaran luar negeri Blackberry hampir tidak bisa bersaing dengan merk dagang yang sudah tenar seperti Samsung, apple, HTC dan lain sebagianya. Tapi di Indonesia, smartphone ini justru laris manis dan bahkan seperti sebuah virus di masyarakat terutama remaja. Ibarat kata, barangsiapa yang tidak menggunakan Blackberry dan memiliki akun jejaring sosial adalah seseorang yang tidak gaul dan ketinggalan zaman. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan produsen, tetapi kita juga perlu melihat sisi masyarakat Indonesia yang pada dasarnya terbuka dan mudah dipengaruhi.
Pemikiran tersebut sebenarnya sudah membudaya sejak dahulu, dimana masyarakat Indonesia memang ramah dan mau menerima sesuatu yang baru, mau mencoba tetapi sayangnya orang Indonesia mudah terpengaruh. Hal itu juga berkaitan dengan sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas agraris dengan pendidikan menengah ke bawah membuat mereka mudah dipengaruhi dan mudah menyerap apa yang mereka dilihat atau dengar. Tentu saja hal ini tidak jauh dengan kebiasaan orang Indonesia terutama orang Jawa yang suka berbagi cerita, dengan kebiasaan saling cerita tadi, mereka lebih suka mendengar dan mempercayai informasi yang mereka dapatkan daripada menyaringnya dan mencari kebenaran tentang hal tersebut.
Kebudayaan tadi juga secara tidak langsung tertanam pada generasi selanjutnya dan berdampak pada pemilihan teknologi bahkan pandangan mereka terhadap teknologi. Ketika masyarakat Indonesia mendengar tentang kemutakhiran BBM atau Blackbery Messenger, masyarakat berbondong-bondong untuk memilikinya dan menggunakannya. Tanpa mereka ketahui bahwa di luar negeri seperti Amerika dan Inggris, Blackberry sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat disana karena rentan diretas atau di-hack.. Begitu juga yang terjadi pada jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Path yang sukses mendapatkan peringkat 5 besar dengan pengakses terbanyak di dunia.
Dari contoh di atas dapat dilihat juga bagaimana teknologi tidak hanya mempengaruhi tingkah laku tetapi juga kehidupan di sekitar kita baik secara sosial ekonomi, dan politik. Itu mengapa cultural studies mempelajari pengaruh teknologi dengan topic bahasan utamanya adalah perubahan yang terjadi di dalam ekonomi, politik, identitas, space dan gender terkait dengan adanya teknologi.
Pengalaman seseorang memanfaatkan teknologi menimbulkan sebuah perubahan yang tidak hanya terjadi di suatu bidang melainkan mempengaruhi bidang yang lain. Dengan adanya teknologi kegiatan perekonomian menjadi lebih mudah, efisien dan tidak memakan banyak waktu. Tetapi dengan adanya teknologi kegiatan jual beli secara langsung seperti di pasar tradisional seolah-olah hilang dimakan terobosan online shopping. Dari sisi gender, dulu yang dianggap mampu memanfaatkan teknologi hanya kaum laki-laki tapi kini kaum wanita juga mampu memanfaatkan teknologi. Dari sisi budaya segi gender hanya sebatas masalah jenis kelamin. Seorang bisa saja mengaku jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki hanya untuk sebuah identitasnya di dunia maya. Identitas seseorang di dunia maya dan dunia nyata juga bisa dipertanyakan karena kini bisa saja seseorang memiliki sisi kepribadian berbeda baik di dunia nyata maupun maya. Dari sisi space, orang-orang mungkin bebas berekspresi di dunia maya dibandingkan di dunia nyata.
Diperlukan sebuah upaya untuk meningkatkan kecerdasan dan kesadaran masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan dan menggunakan teknologi. Harus ada sebuah keterbukaan atau literasi media yang dimiliki masyarakat sehingga mereka mampu menyaring informasi dan hal-hal yang baru tanpa harus meninggalkan budaya yang ada. Banyaknya perubahan yang bisa dilihat dari sisi budaya dari adanya teknologi tidak serta merta kita harus menolak teknologi yang ada. Hanya saja kita harus bisa bersikap bijak dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi yang ada.

Pemanfaatan Media dalam Peningkatan Kinerja Kelompok



Kemudahan teknologi kini telah memperingan kinerja kelompok dan juga meningkatkan efektivitas sebuah kelompok. Dahulu, sebuah kelompok hanya terdiri dari beberapa anggota dengan jumlah anggota yang relatif sedikit berkisar 5 sampai 15 orang. Selain itu, kelompok tradisional juga memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Artinya, mereka hanya mengandalkan komunikasi secara langsung yaitu face-to-face di suatu tempat dan waktu tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Kini, sebuah kelompok dapat memanfaatkan media, khususnya dengan tersedianya jaringan internet dan fasilitas email, teleconference, sebuah kelompok dapat meningkatkan efektivitas mereka terhadap waktu dan tempat. Dengan adanya media, sebuah kelompok tidak hanya beranggotakan orang-orang dengan kuantitas kecil tetapi dengan kuantitas yang besar, karena dengan media orang-orang yang memiliki satu kesamaan dapat bergabung dan saling berbagi melalui media tersebut sehingga terciptalah sebuah kelompok. Dalam hal penyelesaian kerja, anggota kelompok yang memiliki masalah dengan tempat dan waktu tetap dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu dengan memanfaatkan email, teleconference dan intranet.
Contoh kecil yang ada disekitar kita adalah kelompok kecil dalam urusan tugas kuliah. Biasanya mahasiswa sulit untuk diajak bertemu langsung dan diajak mengerjakan tugas bersama, masing-masing diantaranya memiliki kepentingan yang sama-sama mendesak. Akhirnya, daripada tugas mereka tidak dapat diselesaikan, kelompok tersebut memutuskan untuk membagi-bagi tugasnya dan memanfaatkan email atau surat elektronik untuk saling bertukar materi. Tiap-tiap anggota akan mengirimkan hasil pekerjaan mereka kepada salah satu anggota yang dianggap mampu untuk menangani atau bisa juga dianggap sebagai ketua yang dipercayai untuk menyatukan tugas tersebut. Pemanfaatan media disini membuktikan adanya efektivitas waktu dan tempat dalam upaya peningkatan kinerja kelompok. Karena kita ketahui sendiri sebuah kelompok dengan anggota yang memiliki kesamaan biasanya ketika dipertemukan justru akan lebih banyak membahas hal yang kurang penting daripada menyelesaikan tugas mereka.
Kemudian bagaimana cara untuk meningkatkan kinerja kelompok? Diperlukan sebuah kolaborasi di antara anggota kelompok yang terdiri dari  aspek-aspek kognitif, emosional dan motivasi komunikasi. Kelompok perlu  menerima dan menyimpan informasi dari berbagai jenis, dari satu sama lain dan dari berbagai sumber lain. Penelitian Hollingshead (1993) menyajikan sebuah sistem klasifikasi berdasarkan peran fungsional untuk mendukung kolaborasi kelompok. Empat kategori dari sistem klasifikasi berdasarkan teknologi:
1.        GCSS (Group Communication Support System)
GCSS adalah kemampuan untuk mengizinkan anggota kelompok berkomunikasi menggunakan media. Sebagai ilustrasi, GCSS bervariasi dalam saluran yang tersedia untuk kelompok  seperti visual, pendengaran, teks dan grafis.
Tabel :Tipologi dukungan sistem komunikasi kelompok
Modalitas yang tersedia
Sinkronis
Asynchronous
Visual
Konfrensi Video
Pertukaran Dvd
Audio
Telepon Konfrensi
Pesan Suara
Teks, Graphik
Konfrensi Komputer, Pesan Singkat, Tempat Chatting
Fax, e-mail, pesan teks, newsgroup, kelompok diskusi. Homepage, website, blog, wiki
Tabel diatas memberikan contoh GCSS mengorganisasi saluran komunikasi yang disediakan oleh teknologi (video, audio, teks grafis) dan distribusi sementara anggota, yaitu apakah mereka berkomunikasi serentak atau tidak serempak.
GISS (Group Information Support System)
Anggota kelompok memiliki banyak akses tempat menyimpan informasi seperti database, arsip dan internet atau pengetahuan lain dari anggota kelompok lain. Intranet seperti yang kita ketahui adalah website yang mendukung berbagai macam informasi dan pengetahuan didalamnya dan untuk berbagi sesama karyawan.tergantung dari konfigurasinya.
GXSS (Group Exchange Support System)
            Fungsi GXSS adalah komunikasi antara anggota kelompok dengan kelompok eksternal dapat dilakukan dengan salah satu sistem GCSS dan GISS. Pada saat yang sama, seseorang dapat mempertimbangkan interaksi dengan agen non-manusia seperti webbot eksternal untuk kelompok sebagai mengakses lagi jenis lain dari informasi database, sehingga membuatnya menjadi kasus khusus dari GISS. Organisasi semakin mampu menghubungkan agen-agen pada intranet dengan orang-orang dari klien, mitra, pemasok atau subkontraktor, melalui extranet berbasis Web yang aman. Dengan demikian, extranet berfungsi sebagai infrastruktur terpadu untuk GXSS yang mencapai luar batas organisasi tradisional atau analog digital, firewall perusahaan.
GPSS (Group Performance Support System)
            GPSS merupakan usaha sebuah kelompok untuk meningkatkan performa kinerja kelompok dengan pemanfaatan perangkat lunak, GCSS, GISS, GXSS.  Kebanyakan kelompok menggunakan sistem ini untuk menambah tatap muka dalam upaya pengambilan keputusan mereka .Sistem ini bervariasi untuk jenis dukungan tugas yang diberikan kepada kelompok, ukuran kelompok yang bisa menggunakan sistem, dan apakah fasilitator terlatih diperlukan untuk menambah perangkat lunak GPSS. 
Dengan memaksimalkan penggunaan GCSS, GISS, GXSS dan GPSS dengan baik dan tepat, sebuah kelompok dapat meningkatkan performa dan kinerjanya. Tidak hanya itu, hubungan diantara masing-masing anggota juga akan semakin erat.
Begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh media saat ini tidak serta merta mendatangkan dampak positif untuk kelompok. Ada beberapa dampak negatif yang diciptakan dengan adanya penggunaan media oleh kelompok. Poole dan DeSanctis (1990) terinspirasi oleh kontribusi teoretis yang  berpengaruh dari teori struktur Giddens' (1984), yang disebut juga sebagai teori struktur adaptif. Teori struktur adaptif ini menekankan bagaimana pentingnya interaksi sebagai sekumpulan proses, baik dalam menentukan hasil dalam suatu kelompok dan dalam menengahi efek yang ditimbulkan oleh teknologi tertentu. Pada dasarnya, teknologi sosial menyajikan suatu aturan struktur dan operasi ke dalam suatu kelompok tanpa mereka sadari, kelompok secara aktif memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang kinerja mereka dan mengakibatkan restrukturisasi teknologi seperti memanfaatkan teknologi untuk membentuk jaringan atau sistem interaksi kelompok sendiri. Dengan demikian, kelompok tersebut akan mengalami ketergantungan terhadap teknologi atau media baru yang sudah terbiasa dimanfaatkan oleh mereka untuk menunjang kinerja mereka sehingga mengurangi interaksi kelompok tersebut secara langsung seperti kurangnya intensitas pertemuan atau waktu berkumpul yang semakin sedikit yang dari waktu ke waktu akan mempersulit kelompok tersebut dalam upaya peningkatan kualitas kekompakan di dalam kelompok tersebut. Jika terjadi permasalahan dalam pengambilan keputusan di dalam kelompok akan terjadi kesulitan untuk menyelesaikan permasalahan itu dikarenakan kurangnya kedekatan yang intens dari masing-masing anggota.

Terlepas dari dampak positif dan negatif yang telah diberikan oleh media dan teknologi, sesungguhnya teknologi yang kita manfaatkan saat ini sudah sangat mempermudah dan menunjang segala bentuk aktivitas sehari-hari terutama untuk menunjang kinerja kelompok. Semua dampak yang diberikan oleh media teknologi bergantung pada bagaimana sebuah kelompok mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang dan meningkatkan kinerja kelompoknya tanpa harus kehilangan hubungan kelompok yang sesungguhnya. Dengan demikian, diperlukan kesadaran dari dalam diri masing-masing anggota sehingga dapat meminimalisir aturan-aturan yang dibawa oleh teknologi dan tidak pernah disadari langsung oleh kelompok yang memanfaatkan media. 

Start Work With Me

Contact Us
SILVIA ARIYA MARETA
+6285643137317
Purwokerto, Indonesia