WANDERER

I AM

image
Hello,

I'm Silvia Mareta

A Bachelor of Communication from Jenderal Soedirman University, Purwokerto. Graduated at September 2016. Now I am a Certified Google Partner and a Campaign Manager at DGPro Digital Agency. Can be defined as self-motivated, hard worker, easy going, confident individual, fast learner yet adapt quickly in any situation. I also willing to learn and improving any kind of skills. can work as team or individually. Tight deadlines isn't a problem.


Education
University of Jenderal Soedirman

Bachelor of Communication

Google Academy Ads

Digital Marketer

Senior High School 5 Purwokerto

Science


Experience
Campaign Manager

DGPro Digital Agency

Sales Executive

Java Heritage Hotel

Public Relation Intern

Banyumas Government


My Skills
Design
Public Relation
Branding
Marketing

Coordinator Registration

Mata Najwa On Stage Purwokerto

Creative Team

Pekan Seni Soedirman

Foreign Affair

ESOF UNSOED

Public Relation

Kue Lapis Himakom

WHAT CAN I DO

Graphic Design

Create a lot of new ideas for branding logos, or any others graphic works

Copywritting

Writting an unbreathtaking story, and share unpredictable yet unique ideas

Public Relation Strategy

Analyzing, developing and conduct public relation strategies to build your company as a good and execellent company

Marketing

Analyzing, developing and conduct any marketing activities so your company will growth faster

Photographic

Take a lot of fabulous photos and makes your feed more attractive

Branding

Creating and developing fresh and unique ideas to improve your brand

SOME OF WORK

Apa Itu Digital Marketing?


Apa Itu Digital Marketing? Pengertian dan Pembahasannya


Selamat Hari Jum’at Berkah Teman Blog,
Kali ini aku mau share tentang Digital Marketing. Pasti sudah banyak yang tahu apa sih digital marketing itu. Atau bahkan ada yang masih bingung kerjaan digital marketing itu ngapain aja.

Teman Blog pasti pernah kan melihat promosi atau iklan – iklan sebuah brand atau produk dari sebuah perusahaan di dunia online? Seperti iklan brand di internet dan media social. Nah, contoh simple tadi adalah salah satu penerapan Digital Marketing. Sebenarnya masih banyak contoh lain yang Teman Blog sudah tahu tapi belum terpikirkan kalau itu salah satu bentuk digital marketing.

Apa Itu Digital Marketing?
“Digital Marketing” is the process of building and maintaining customer relationships through online activities to facilitate the exchange of ideas, products, and services that satisfy the goals of both parties. – Sumber dari salah satu ebook yang saya lupa judulnya.
Digital Marketing juga bisa diartikan sebagai serangkaian strategi pemasaran atau promosi untuk meningkatkan penjualan, awareness dan menjangkau calon konsumen secara cepat dan tepat waktu melalui media digital berupa internet. Bisa melalui mesin pencarian, social media seperti Instagram, facebook, Youtube dan social media lainnya.

Kenapa Harus Beralih ke Digital Marketing?

Sebenarnya buka beralih, tapi menyempurnakan strategi pemasaran melalui dunia digital. Kita tidak bisa memungkiri kalau perkembangan teknologi semakin pesat, semakin canggih bahkan semakin merajarela hehe
Mengembangkan strategi pemasaran melalui digital di era ini sangatlah penting, karena hampir seluruh penduduk dunia sudah menggunakan fasilitas internet dan memiliki smartphone. Ini ada hasil penelitian dari wearesocial tentang pengguna internet di Indonesia pada awal tahun 2018.




Bisa dibayangkan kan, seberapa besar peluang yang dimiliki untuk mengembangkan bisnis secara digital.

Apa Saja Jenis Digital Marketing?
Untuk Jenis-jenisnya ada beberapa kategori yaitu:
SEO (Search Engine Optimization) – Menjadikan website berada diurutan nomor satu Search Engine Rank Page.
SMM (Social Media Marketing) - Memfokuskan penjualan melalui media sosial, slaah satunya melalui Facebook Ads, Instagram dan Instagram Ads.
SMO (Social Media Optimization) - Pengelolaan akun media sosial
PPC (Pay Per Click) - Iklan berbayar disetiap klik nya, seperti Google Ads, Adsense, dll.
SEM (Search Engine Marketing) - Pemasaran melalui mesin pencarian seperti google, Bing, contohnya Google Ads.

Keunggulan Digital Marketing vs Konvensional?


Kalau bahas tentang keunggulan tentang digital marketing, yang paling pertama terlintas yaitu adanya data real time yang mengukur perkembangan bisnis.
Dari media digital ini, Teman Blog bisa tahu seberapa banyak iklan kamu tayang, di klik, dan untuk video seberapa lama video kamu ditonton, menghasilkan konversi penjualan dari setiap iklan. Dan yang pasti, bisa menentukan iklan mana saja yang cocok dengan produk Teman Blog.

Keunggulan lainnya sudah pasti dari segi geografis dan demografis. Teman Blog bisa menyebarkan konten/ brand produk keseluruh dunia dengan target pasar yang berbeda hanya dengan bermain klik.

Sekian dulu pembahasan tentang Digital Marketing. Next, aku bakal sharing yang lebih banyak lagi tentang hiruk pikuk Dunia Digital Marketing.
See ya!







Menulis itu Candu

Setelah sekian purnama berlalu, terbang kesana kemari melebihi kupu-kupu.
Hi, saya kembali lagi!
Iya, kembali kedunia yang menyenangkan yang sudah saya tinggalkan beberapa waktu lalu. Terlalu banyak waktu yang saya gunakan untuk menikmati hari-hari diluar sana dan meluangkan banyak pikiran lewat jalan lain. Sampai lupa halaman ini sudah lama tidak saya jenguk hehehe

Habis dari mana aja selama ini?
Selama ini saya sibuk dengan dunia perkuliahan saat belum lulus dulu, ya tahu sendiri kan kuliah di Komunikasi itu banyak tugasnya. Tapi tetap seru kok. Setelah lulus kuliah, lebih tenggelam lagi karena waktu saya habis untuk bekerja. Kerja dan kerja.

"Kerja lembur bagai kuda, sampai lupa orang tua." - Jangan sambil nyanyi ya bacanya.

Selama ini, kalo ingin berbagi pikiran saya cuma nge-tweet atau bikin snapgram. Yang simple, tapi tak begitu berbekas. Ternyata menuangkan pikiran lewat tulisan memang benar-benar candu ya. Semakin sering sharing, walaupun hanya sekedar pendapat yang belum tentu benar bagi beberapa orang justru makin seru. Apalagi ada beberapa yang selalu menanggapi sharing pikiran saya.

Tentang pendapat yang saya tulis memang tidak melulu benar, tidak sering dari pendapat yang saya bagi justru menambah pengetahuan dan pola pandang baru. Yang pastinya semakin seru karena semakin belajar menyelami sudut pandang orang lain. Benar-benar candu bukan? Mulai dari sini, saya memutuskan untuk aktif ngeblog lagi.

Mau mulai sharing cerita dari mana ya?
Ada banyak cerita yang ingin saya bagi. Mulai dari pengalaman kerja saya yang dulu dan yang sekarang, tentang dunia digital yang saya geluti sampai cerita jalan-jalan ke tempat-tempat yang saya kunjungi. Walaupun menulis itu candu, tapi menentukan content memang agak berat ya hehehe
Oke, let's see apa yang akan saya ceritakan dulu di postingan saya berikutnya.
Sampai jumpa!

Alasan Kenapa Kesulitan adalah Sahabat

kehidupan tidak akan pernah terlepas dari yang namanya kesulitan. tetapi justru kesulitan lah yang meningkatkan derajat dan status kehidupan itu sendiri. sudah banyak contoh nyata yang ada di sekeliling kita, karena seseorang lebih sering tidak memiliki masalah dan menghadapi kesulitan, sekalinya ia menghadapi kesulitan yang mampu dilakukannya hanyalah mengeluh, dan berputus asa.
seseorang yang terbiasa hidup mudah tanpa menghadapi kesulitan memang rentan menyerah. bukan berarti kita tidak mensyukuri apa yang sudah berikan, tetapi kesulitan dan kemudahan yang Tuhan berikan tak lain memiliki tujuan yang baik untuk umat-Nya. agar mereka mampu menyadari dan berbuat lebih baik lagi.
tapi saat ini, memang banyak orang yang kehidupannya lebih susah dan lebih menyedihkan dari kehidupan kita sendiri. tapi kita juga perlu melihat seberapa keras usaha mereka untuk memperbaiki kehidupan mereka. banyak yang hidupnya lebih kesusahan dan menderita, tapi semuanya tidak bisa menjadi contoh. bukannya tidak memiliki belas kasihan, hanya saja sangat menyayangkan mengapa mereka tidak memiliki daya juang dan semangat yang besar untuk memperbaiki hidup mereka tanpa bergantung kepada orang lain? kenapa mereka begitu mudahnya menyerah dan seolah-olah menyalahkan orang lain yang tidak mau menolong mereka padahal mereka hanya kurang bersyukur? bagaimana orang lain mau menolong dirinya jika dia tidak mampu menolong dirinya sendiri?
memberikan pertolongan justru menjadi candu yang menghanyutkan mereka. menjadikan mereka ketergantungan, malas dan mudah menyerah. apakah mental seperti ini yang akan terus hidup dan berkembang di masyarakat kita? sampai kapan kita menjadi pecundang yang dengan mudahnya menyerah pada keadaan tanpa ada setetes keringat keluar untuk merubah keadaan? 
bersyukurlah dengan segala masalah yang dihadapi, karena sebenarnya masalah adalah sahabat dan guru terbaik yang selalu menentukan kita untuk menjadi lebih baik atau sebaliknya.

Parkir Prabayar

Pernahkan Anda merasa kesal ketika sedang berpergian menggunakan motor atau mobil dan harus membayar parkir tetapi si Tukang Parkir justru malas untuk mengatur jalanan agar kita bisa berjalan? Pernahkah Anda berpikir bahwa uang parkir yang kita bayarkan dan tanpa tanda bukti berupa karcis bisa benar-benar masuk dalam pendapatan daerah? Atau Anda justru berpikir bahwa uang parkir yang Anda bayarkan justru memperkaya si Tukang Parkir? Pernahkah Anda berpikir uang yang Anda keluarkan untuk parkir jika diakumulasikan dalam sebulan bisa untuk membeli sesuatu yang lebih Anda butuhkan?

Kita tidak bisa menyalahkan tukang parkir karena mereka juga sama seperti kita yang berjuang mencari nafkah untuk bertahan hidup. Tapi bagaimana dengan tukang parkir yang hanya mau menerima uang tanpa mau membantu menyeberangkan atau menjaga kelancaran lalu lintas? Malah kadang menambah kemacetan jalanan?

Bisa kita bayangkan pendapatan tukang parkir dalam seharinya tanpa harus menyetorkannya ke pemda. Seharusnya pemerintah bertindak tegas terhadap parkir nakal di daerah-daerah dengan menetapkan tarif standar parkir dan memastikan uang yang diterima oleh tukang parkir sebagian benar-benar masuk dalam kantong pemda dan digunakan sebagai sumber dana untuk memperbaiki fasilitas umum. Dengan penggunaan karcis mungkin bisa sebagai tolak ukur jumlah uang masuk yang diterima pemda. Mungkin dengan sistem 80% untuk tukang parkir dan 20% untuk pemda bisa bermanfaat bagi keduanya.

Bagaimana dengan tukang parkir yang mendapatkan pemasukan sedikit? Mereka bisa saja merugi dengan hal tersebut. Untuk menghindari hal tersebut, saya memiliki sebuah terobosan terbaru yaitu dengan memanfaatkan parkir prabayar.

Parkir prabayar adalah salah satu bentuk pembayaran parkir seperti kita mengisi pulsa. Kita mengisi saldo untuk kartu parkir sesuai kebutuhan tanpa jangka waktu. Mulai dari nominal Rp 20.000,00 sampai Rp 100.000,00. Setiap pergi kita hanya perlu menunjukkan kartu parkir kepada petugas parkir, kemudian tukang parkir akan memberikan karcis kepada kita yang ditulisi nomor kartu parkir kita. Dan secara otomatis saldo dalam kartu prabayar kita akan berkurang. Lalu bagaimana dengan kendaraan yang kita gunakan? Kendaraan yang kita gunakan akan diberi sticker dengan hologram khusus yang menandakan bahwa kita adalah pengguna parkir prabayar. Dengan tarif untuk motor Rp 1000,00 dan mobil Rp 2000,00.

Jika saldo kartu prabayar kita habis, kita bisa mengisi ulangnya dengan membelinya di toko-toko seperti penjualan voucher pulsa ataupun token listrik.

Bagaimana dengan nasib penghasilan tukang parkir dengan menggunakan sistem kartu prabayar? Para tukang parkir menukarkan karcis yang berisi catatan nomor kartu parkir tadi dengan sejumlah uang di kantor desa atau pemda setempat. Dengan perhitungan peruntungan 20% untuk pemerintah dan 80% untuk tukang parkir tersebut.

Well, setidaknya dengan solusi parkir prabayar ini, mengurangi kekhawatiran kita akan uang yang telah kita bayarkan kepada tukang parkir. Setidaknya uang yang telah kita bayarkan untuk parkir bisa benar-benar masuk ke kas daerah sehingga bisa membantu dalam upaya pembangunan dan perbaikan fasilitas umum. Tapi jangan lupa, segala ide yang ada tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa adanya mufakat, kerja sama dan kejujuran dalam pelaksanaannya.


Laris manisnya Teknologi Karena Budaya

Sudah bukan rahasia umum lagi jika saat ini teknologi telah merubah perilaku, kebudayaan bahkan pola pikir masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia yang notabenenya adalah masyarakat berkembang. Kemudahan teknologi dan masuknya kebudayaan dari Negara lain tidak jarang disalahartikan oleh masyarakat Indonesia. Karena kurangnya kesadaran dari masyarakat Indonesia tentang pentingnya menyaring informasi atau pun hal-hal baru yang diterima. Hal ini seolah-olah sudah membudaya didalam diri masyarakat Indonesia sehingga budaya secara tidak langsung juga mempengaruhi dan mendorong berkembangnya teknologi.
Kali ini saya akan membahas tentang kaitan cultural study  dengan perkembangan teknologi komunikasi yang ada di Indonesia. Dengan latar belakang masyarakat Indonesia yang kebanyakan adalah masyarakat berkembang dan dengan tingkat kesadaran yang tergolong rendah cocok sebagai objek sebuah penelitian yang berdasar pada cultural study. Mengapa perlu diadakan cultural study dalam mempelajari teknologi komunikasi? Dan apa sesungguhnya cultural study tersebut? Semuanya akan saya coba jelaskan dalam esai kali ini.
Mengutip ucapan Hall tentang cultural studies, ”cultural studies is not and never has been one thing, but that doesn’t not mean that it is anything and everything” (Hall, 1990: 11). Cultural study sejatinya melihat sesuatu hal yang berkaitan dengan teknologi tidak hanya dari satu sisi tetapi dari sudut pandang lain yang memiliki keterkaitan lain dengan teknologi. Bagaimana suatu teknologi mampu mempengaruhi dan merubah pola kehidupan seseorang atau bahkan suatu masyarakat. Karena teknologi bukan hanya sekedar perangkat, teknik, dan sistem yang biasa kita mengerti sebagai teknologi tapi juga memiliki suatu tujuan tertentu yang akan ditenun menjadi sebuah tekstur eksistensi sehari hari.
Cultural studies adalah mengenai hal-hal interdisiplin, transdisiplin, dan kadang antar disiplin. (1992: 4). Cultural studies melakukan study tentang segala bentuk seni, kepercayaan, institusi dan praktek komunikatif di dalam masyarakat. (1992: 4). Cultural studies secara sederhana tidak hanya sebagai sebuah catatan-catatan tentang perubahan budaya melainkan sebagai sebuah intervensi di dalamnya (1992: 5). Dengan kata lain, cultural studies tidak hanya mencatat perubahan yang ada seperti imitasi yang dilakukan oleh anak muda tetapi meneliti lebih dalam tentang bagaimana pengalaman seseorang tentang suatu hal, terutama teknologi dapat merubah mereka. Bukan tentang apa yang merubah mereka melainkan bagaimana hal tersebut mampu merubah mereka.
Teknologi saat ini juga tidak luput dari penelitian cultural studies karena teknologi dapat berkembang di suatu masyarakat tidak terlepas dari adanya dorongan kebudayaan masyarakat itu sendiri sehingga memperkuat kehadiran teknologi di dalam masyarakat. Teknologi menjadi bagian tak terhapuskan dari budaya modern. (Winner, 1986:12), mustahil jika diantara teknologi dan kebudayaan tidak saling mempengaruhi satu sama lain, keduanya terefleksikan dari budaya dan kondisi perkembangan budaya yang lebih lanjut.
Contoh nyata yang ada disekitar kita adalah mudahnya teknologi atau bahkan kebudayaan dari Negara lain masuk ke dalam keseharian masyarakat dan diterima bahkan seolah-olah menjadi kebutuhan serta kewajiban yang harus dimiliki oleh orang Indonesia. Bisa kita lihat dari banyaknya pengguna jejaring sosial di Indonesia dan Indonesia menjadi pasar utama penjualan gadget, terutama Blackberry. Seperti yang kita tahu, di pasaran luar negeri Blackberry hampir tidak bisa bersaing dengan merk dagang yang sudah tenar seperti Samsung, apple, HTC dan lain sebagianya. Tapi di Indonesia, smartphone ini justru laris manis dan bahkan seperti sebuah virus di masyarakat terutama remaja. Ibarat kata, barangsiapa yang tidak menggunakan Blackberry dan memiliki akun jejaring sosial adalah seseorang yang tidak gaul dan ketinggalan zaman. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan produsen, tetapi kita juga perlu melihat sisi masyarakat Indonesia yang pada dasarnya terbuka dan mudah dipengaruhi.
Pemikiran tersebut sebenarnya sudah membudaya sejak dahulu, dimana masyarakat Indonesia memang ramah dan mau menerima sesuatu yang baru, mau mencoba tetapi sayangnya orang Indonesia mudah terpengaruh. Hal itu juga berkaitan dengan sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas agraris dengan pendidikan menengah ke bawah membuat mereka mudah dipengaruhi dan mudah menyerap apa yang mereka dilihat atau dengar. Tentu saja hal ini tidak jauh dengan kebiasaan orang Indonesia terutama orang Jawa yang suka berbagi cerita, dengan kebiasaan saling cerita tadi, mereka lebih suka mendengar dan mempercayai informasi yang mereka dapatkan daripada menyaringnya dan mencari kebenaran tentang hal tersebut.
Kebudayaan tadi juga secara tidak langsung tertanam pada generasi selanjutnya dan berdampak pada pemilihan teknologi bahkan pandangan mereka terhadap teknologi. Ketika masyarakat Indonesia mendengar tentang kemutakhiran BBM atau Blackbery Messenger, masyarakat berbondong-bondong untuk memilikinya dan menggunakannya. Tanpa mereka ketahui bahwa di luar negeri seperti Amerika dan Inggris, Blackberry sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat disana karena rentan diretas atau di-hack.. Begitu juga yang terjadi pada jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Path yang sukses mendapatkan peringkat 5 besar dengan pengakses terbanyak di dunia.
Dari contoh di atas dapat dilihat juga bagaimana teknologi tidak hanya mempengaruhi tingkah laku tetapi juga kehidupan di sekitar kita baik secara sosial ekonomi, dan politik. Itu mengapa cultural studies mempelajari pengaruh teknologi dengan topic bahasan utamanya adalah perubahan yang terjadi di dalam ekonomi, politik, identitas, space dan gender terkait dengan adanya teknologi.
Pengalaman seseorang memanfaatkan teknologi menimbulkan sebuah perubahan yang tidak hanya terjadi di suatu bidang melainkan mempengaruhi bidang yang lain. Dengan adanya teknologi kegiatan perekonomian menjadi lebih mudah, efisien dan tidak memakan banyak waktu. Tetapi dengan adanya teknologi kegiatan jual beli secara langsung seperti di pasar tradisional seolah-olah hilang dimakan terobosan online shopping. Dari sisi gender, dulu yang dianggap mampu memanfaatkan teknologi hanya kaum laki-laki tapi kini kaum wanita juga mampu memanfaatkan teknologi. Dari sisi budaya segi gender hanya sebatas masalah jenis kelamin. Seorang bisa saja mengaku jenis kelaminnya perempuan atau laki-laki hanya untuk sebuah identitasnya di dunia maya. Identitas seseorang di dunia maya dan dunia nyata juga bisa dipertanyakan karena kini bisa saja seseorang memiliki sisi kepribadian berbeda baik di dunia nyata maupun maya. Dari sisi space, orang-orang mungkin bebas berekspresi di dunia maya dibandingkan di dunia nyata.
Diperlukan sebuah upaya untuk meningkatkan kecerdasan dan kesadaran masyarakat Indonesia dalam memanfaatkan dan menggunakan teknologi. Harus ada sebuah keterbukaan atau literasi media yang dimiliki masyarakat sehingga mereka mampu menyaring informasi dan hal-hal yang baru tanpa harus meninggalkan budaya yang ada. Banyaknya perubahan yang bisa dilihat dari sisi budaya dari adanya teknologi tidak serta merta kita harus menolak teknologi yang ada. Hanya saja kita harus bisa bersikap bijak dan cerdas dalam memanfaatkan teknologi yang ada.

Pemanfaatan Media dalam Peningkatan Kinerja Kelompok



Kemudahan teknologi kini telah memperingan kinerja kelompok dan juga meningkatkan efektivitas sebuah kelompok. Dahulu, sebuah kelompok hanya terdiri dari beberapa anggota dengan jumlah anggota yang relatif sedikit berkisar 5 sampai 15 orang. Selain itu, kelompok tradisional juga memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Artinya, mereka hanya mengandalkan komunikasi secara langsung yaitu face-to-face di suatu tempat dan waktu tertentu untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Kini, sebuah kelompok dapat memanfaatkan media, khususnya dengan tersedianya jaringan internet dan fasilitas email, teleconference, sebuah kelompok dapat meningkatkan efektivitas mereka terhadap waktu dan tempat. Dengan adanya media, sebuah kelompok tidak hanya beranggotakan orang-orang dengan kuantitas kecil tetapi dengan kuantitas yang besar, karena dengan media orang-orang yang memiliki satu kesamaan dapat bergabung dan saling berbagi melalui media tersebut sehingga terciptalah sebuah kelompok. Dalam hal penyelesaian kerja, anggota kelompok yang memiliki masalah dengan tempat dan waktu tetap dapat menyelesaikan tugasnya tepat waktu dengan memanfaatkan email, teleconference dan intranet.
Contoh kecil yang ada disekitar kita adalah kelompok kecil dalam urusan tugas kuliah. Biasanya mahasiswa sulit untuk diajak bertemu langsung dan diajak mengerjakan tugas bersama, masing-masing diantaranya memiliki kepentingan yang sama-sama mendesak. Akhirnya, daripada tugas mereka tidak dapat diselesaikan, kelompok tersebut memutuskan untuk membagi-bagi tugasnya dan memanfaatkan email atau surat elektronik untuk saling bertukar materi. Tiap-tiap anggota akan mengirimkan hasil pekerjaan mereka kepada salah satu anggota yang dianggap mampu untuk menangani atau bisa juga dianggap sebagai ketua yang dipercayai untuk menyatukan tugas tersebut. Pemanfaatan media disini membuktikan adanya efektivitas waktu dan tempat dalam upaya peningkatan kinerja kelompok. Karena kita ketahui sendiri sebuah kelompok dengan anggota yang memiliki kesamaan biasanya ketika dipertemukan justru akan lebih banyak membahas hal yang kurang penting daripada menyelesaikan tugas mereka.
Kemudian bagaimana cara untuk meningkatkan kinerja kelompok? Diperlukan sebuah kolaborasi di antara anggota kelompok yang terdiri dari  aspek-aspek kognitif, emosional dan motivasi komunikasi. Kelompok perlu  menerima dan menyimpan informasi dari berbagai jenis, dari satu sama lain dan dari berbagai sumber lain. Penelitian Hollingshead (1993) menyajikan sebuah sistem klasifikasi berdasarkan peran fungsional untuk mendukung kolaborasi kelompok. Empat kategori dari sistem klasifikasi berdasarkan teknologi:
1.        GCSS (Group Communication Support System)
GCSS adalah kemampuan untuk mengizinkan anggota kelompok berkomunikasi menggunakan media. Sebagai ilustrasi, GCSS bervariasi dalam saluran yang tersedia untuk kelompok  seperti visual, pendengaran, teks dan grafis.
Tabel :Tipologi dukungan sistem komunikasi kelompok
Modalitas yang tersedia
Sinkronis
Asynchronous
Visual
Konfrensi Video
Pertukaran Dvd
Audio
Telepon Konfrensi
Pesan Suara
Teks, Graphik
Konfrensi Komputer, Pesan Singkat, Tempat Chatting
Fax, e-mail, pesan teks, newsgroup, kelompok diskusi. Homepage, website, blog, wiki
Tabel diatas memberikan contoh GCSS mengorganisasi saluran komunikasi yang disediakan oleh teknologi (video, audio, teks grafis) dan distribusi sementara anggota, yaitu apakah mereka berkomunikasi serentak atau tidak serempak.
GISS (Group Information Support System)
Anggota kelompok memiliki banyak akses tempat menyimpan informasi seperti database, arsip dan internet atau pengetahuan lain dari anggota kelompok lain. Intranet seperti yang kita ketahui adalah website yang mendukung berbagai macam informasi dan pengetahuan didalamnya dan untuk berbagi sesama karyawan.tergantung dari konfigurasinya.
GXSS (Group Exchange Support System)
            Fungsi GXSS adalah komunikasi antara anggota kelompok dengan kelompok eksternal dapat dilakukan dengan salah satu sistem GCSS dan GISS. Pada saat yang sama, seseorang dapat mempertimbangkan interaksi dengan agen non-manusia seperti webbot eksternal untuk kelompok sebagai mengakses lagi jenis lain dari informasi database, sehingga membuatnya menjadi kasus khusus dari GISS. Organisasi semakin mampu menghubungkan agen-agen pada intranet dengan orang-orang dari klien, mitra, pemasok atau subkontraktor, melalui extranet berbasis Web yang aman. Dengan demikian, extranet berfungsi sebagai infrastruktur terpadu untuk GXSS yang mencapai luar batas organisasi tradisional atau analog digital, firewall perusahaan.
GPSS (Group Performance Support System)
            GPSS merupakan usaha sebuah kelompok untuk meningkatkan performa kinerja kelompok dengan pemanfaatan perangkat lunak, GCSS, GISS, GXSS.  Kebanyakan kelompok menggunakan sistem ini untuk menambah tatap muka dalam upaya pengambilan keputusan mereka .Sistem ini bervariasi untuk jenis dukungan tugas yang diberikan kepada kelompok, ukuran kelompok yang bisa menggunakan sistem, dan apakah fasilitator terlatih diperlukan untuk menambah perangkat lunak GPSS. 
Dengan memaksimalkan penggunaan GCSS, GISS, GXSS dan GPSS dengan baik dan tepat, sebuah kelompok dapat meningkatkan performa dan kinerjanya. Tidak hanya itu, hubungan diantara masing-masing anggota juga akan semakin erat.
Begitu banyak kemudahan yang diberikan oleh media saat ini tidak serta merta mendatangkan dampak positif untuk kelompok. Ada beberapa dampak negatif yang diciptakan dengan adanya penggunaan media oleh kelompok. Poole dan DeSanctis (1990) terinspirasi oleh kontribusi teoretis yang  berpengaruh dari teori struktur Giddens' (1984), yang disebut juga sebagai teori struktur adaptif. Teori struktur adaptif ini menekankan bagaimana pentingnya interaksi sebagai sekumpulan proses, baik dalam menentukan hasil dalam suatu kelompok dan dalam menengahi efek yang ditimbulkan oleh teknologi tertentu. Pada dasarnya, teknologi sosial menyajikan suatu aturan struktur dan operasi ke dalam suatu kelompok tanpa mereka sadari, kelompok secara aktif memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang kinerja mereka dan mengakibatkan restrukturisasi teknologi seperti memanfaatkan teknologi untuk membentuk jaringan atau sistem interaksi kelompok sendiri. Dengan demikian, kelompok tersebut akan mengalami ketergantungan terhadap teknologi atau media baru yang sudah terbiasa dimanfaatkan oleh mereka untuk menunjang kinerja mereka sehingga mengurangi interaksi kelompok tersebut secara langsung seperti kurangnya intensitas pertemuan atau waktu berkumpul yang semakin sedikit yang dari waktu ke waktu akan mempersulit kelompok tersebut dalam upaya peningkatan kualitas kekompakan di dalam kelompok tersebut. Jika terjadi permasalahan dalam pengambilan keputusan di dalam kelompok akan terjadi kesulitan untuk menyelesaikan permasalahan itu dikarenakan kurangnya kedekatan yang intens dari masing-masing anggota.

Terlepas dari dampak positif dan negatif yang telah diberikan oleh media dan teknologi, sesungguhnya teknologi yang kita manfaatkan saat ini sudah sangat mempermudah dan menunjang segala bentuk aktivitas sehari-hari terutama untuk menunjang kinerja kelompok. Semua dampak yang diberikan oleh media teknologi bergantung pada bagaimana sebuah kelompok mampu memanfaatkan teknologi tersebut untuk menunjang dan meningkatkan kinerja kelompoknya tanpa harus kehilangan hubungan kelompok yang sesungguhnya. Dengan demikian, diperlukan kesadaran dari dalam diri masing-masing anggota sehingga dapat meminimalisir aturan-aturan yang dibawa oleh teknologi dan tidak pernah disadari langsung oleh kelompok yang memanfaatkan media. 

Teori Struktural Adaptif - Scott Poole


Anggota dalam kelompok menciptakan kelompok karena mereka bertindak di dalamnya. Orang dalam kelompok membangun struktur atau aturan yang membuat mereka tidak nyaman, tetapi mereka tidak menyadari bahwa mereka melakukannya. Inti dari teori strukturasi adaptif menurut Poole adalah untuk membuat kelompok sadar akan aturan dan sumber daya yang kelompok gunakan sehingga kelompok tersebut dapat memiliki kontrol lebih besar atas apa yang mereka lakukan dalam kelompok.
Poole meyakini bahwa tidak ada satupun model pengembangan kelompok yang cukup menjelaskan apa yang terjadi dalam kelompok pengambilan keputusan. Poole melalui penelitian grup kecil berfikir sudah mengelompokan pola komunikasi universal yang seluruh grupnya digunakan ketika mereka membuat suatu keputusan. Model rangkaian pengikut tunggal melalui fase-fase tersebut sampai para anggotanya mencapai kesepakatan:

a.        Orientasi: upaya-upaya tersebut tidaklah foukus karena tujuan dari grup itu sendiri tidaklah jelas; hubungan sifatnya tidaklah pasti; para anggota butuh kejelasan.

b.       Konflik: golongan-golongan tidak setuju tentang bagaimana untuk mendekatkan masalah dan argumen yang berlawanan dengan sudut pandang lainnya; para anggota menimbang posisi mereka.

c.        Koalisi: ketegangan mulai menurun melalui negosiasi yang damai; para anggota mengizinkankan lainnya untuk “menyelamatkan muka” dengan mengadopsi solusi yang dapat diterima untuk semuanya.

d.       Integrasi: grup berfokus pada solidaritas bebas dari ketegangan daripada tugas; para anggota menghargai satu sama lain untuk usaha yang bersatu.

Jika model fasenya tidak tepat, kelompok teori komunikasi akan berada dalam tahapan konflik, tetapi hal tersebut cepat atau lambat terjadi perubahan ke dalam bentuk yang lebih kooperatif.

Poole masih berharap penuh bahwa 5 fase yang direncanakan untuk mencapai keputusan yang berkualitas tinggi. Dia menulis bahwa penyediaan rangkaian tunggal menyediakan sebuah format ideal yang berlogika untuk pembuatan keputusan dan mungkin menjadi jejak yang paling sederhana dan efektif dalam grup pembuatan keputusan yang dapat diikuti.

Poole berfikir bahwa anggota kelompok dipengaruhi oleh struktur sosial seperti komposisi kelompok, jaringan komunikasi, tingkatan status, permintaan tugas, norma kelompok, dan adanya tekanan. Tapi tidak lama berselang dia melihat struktur tersebut sebagai penentuan bahwa kelompok tersebut mencapai keputusan atau bagaimana hasil dari keputusan tersebut. Dia yakin bahwa apa yang orang katakan dan lakukan menimbulkan suatu perbedaan.

Strukturasional menurut Giddens
Menurut Giddens strukturasi mengacu pada "produksi dan reproduksi sistem sosial melalui anggotanya menggunakan aturan dan sumber daya dalam interaksi .

Dengan menggunakan istilah interaksi, Giddens meyakini bahwa orang yang relatif bebas untuk bertindak sesuai keinginan mereka. Mereka bukan sebuah ‘pion’ dalam hidup atau yang dikendalikan oleh kekuatan gaib dimana mereka tidak dapat menolak. Dia mengatakan bahwa setiap pelaku sosial tahu banyak tentang cara masyarakat bekerja, dan ketika ditanya, agen-agen sosial yang kompeten ini dapat menjelaskan sebagian dari apa yang mereka lakukan.

Giddens menggunakan frase aturan dan sumber daya secara bergantian terhadap istilah struktur. Aturan adalah rumus implisit untuk tindakan, resep untuk cara "mendapatkan" dalam hidup, panduan untuk bagaimana memainkan sebuah permainan. Sumber daya mengacu pada semua ciri-ciri pribadi yang relevan, kemampuan, pengetahuan, membawa mereka ke dalam sebuah interaksi. Sumber daya cenderung tidak merata dalam masyarakat. Karena aturan dan sumber daya (struktur) yang terus berubah.
Produksi sistem sosial adalah sebuah proses yang mirip dengan "penciptaan realitas sosial”. Produksi terjadi ketika masyarakat menggunakan aturan dan sumber daya. Produksi terjadi ketika masyarakat menggunakan aturan dan sumber daya. Reproduksi terjadi kapanpun suatu perbuatan menguatkan fitur yang dimiliki oleh sebuah sistem yang telah tersedia, yang akan mempertahankan status quo. Konsep Giddens dari strukturasi adalah ide inti yang menelurkan teori strukturasi adaptif.

INTERAKSI – BERFOKUS MORALITAS , KOMUNIKASI , DAN KEKUASAAN

Strukturasi kelompok adalah hasil dari tindakan, dan sehingga setiap kali anggota berinteraksi, mereka berdampak pada grup. Jika aturan dan sumber daya dari kelompok berubah, itu karena para anggota melakukan sesuatu yang mengubah mereka . Tapi Poole menjelaskan bahwa tindakan tidak selalu mengubah aturan dan sumber daya .
Poole menulis bahwa ketiga elemen ini diramu dalam setiap tindakan kelompok yaitu moralitas, komunikasi dan kekuasaan. Dia mengatakan bahwa "sulit untuk menggunakan Norma moral tanpa mempertimbangkan interpretasi sebuah masalah tentang makna - dan bagaimana mereka ' dibuat untuk menghitung' - masalah kekuasaan."
Dorongan seorang anggota kelompok agar pendapat teman kelompoknya yang pendiam atau ragu-ragu agar didengar justru menimbulkan advokasi yang kadang-kadang bisa menyakiti bukannya membantu anggota kelompok pendiam.

Pengalaman kelas yang telah dijelaskan Poole sejauh ini menyoroti dua poin kunci dari teori strukturasi adaptif . Pertama , komunikasi dalam kelompok tugas kecil membuat perbedaan . Kita mungkin tahu struktur kelompok , sifat tugasnya , dan bahkan sejarah dan kepribadian masing-masing anggota . Tetapi tidak mungkin untuk memprediksi keputusan apa yang akan membuat kelompok tanpa mendengar apa yang telah dikatakan . berkaitan dengan komunikasi .

Kedua , teori strukturasi adaptif memiliki "ujung kritis . " Ingat bahwa teori kritis berusaha untuk mengungkapkan praktek-praktek sosial yang tidak adil dan orang-orang bebas dari sistem yang menindas . Dengan menyoroti cara di mana proses kelompok tidak demokratis dapat diubah , Poole berharap untuk memberdayakan orang-orang yang sekarang diperlakukan sebagai warga negara kelas dua .

PENGGUNAAN DAN PENYALAHGUNAAN ATURAN DAN SUMBER DAYA

Poole merujuk kepada aturan kelompok kecil sebagai "dalil yang menunjukkan bagaimana sesuatu harus dilakukan atau apa baik atau buruk."Meskipun jarang kata-kata, aturan-aturan ini berisi kebijaksanaan kolektif praktis para anggota tentang bagaimana cara terbaik untuk mencapai tujuan kelompok . sumber daya  individu untuk tugas yang di bawanya yaitu  "bahan, harta, atau atribut yang dapat digunakan untuk mempengaruhi atau mengontrol tindakan kelompok atau para anggota."sebagai strategi penelitian, poole memilih beberapa struktur yang muncul untuk menjadi penting dan mengkaji mereka secara lebih mendalam.

Aturan sebuah kelompok dan sumberdaya sering dipinjam dari organisasi induk atau dari budaya yang lebih besar. Poole menyebut proses ini sebagai proses perambahan. Mengingat bahwa siswa di kelas Anda datang dari berbagai latar belakang dan memiliki pengalaman gaya kepemimpinan yang berbeda, Poole tidak akan terkejut jika aturan anda sesuai untuk membuat keputusan tidak dipungkiri persegi dengan standar prosedur perliamentary.

Ternyata, ia mengatisipasi bagaimana kelas anda mencapai keputusan pada kedalaman / kelebaran masalah ketika dia menulis, “ kelompok yang berbeda mungkin sesuai norma politik dari mayoritas peraturan dalam berbagai cara. Satu kelompok mungkin menganggap aturan sebagai upaya terakhir, untuk digunakan hanya jika konsensus tidak dapat dicapai.” Konsensus adalah satu-satunya keputusan yang  bisa diterima  untuk kebanyakan kelompok.
PRODUKSI PERUBAHAN, REPRODUKSI STABILITAS
Sejauh teori strukturasi adaptif (Poole) telah difokuskan pada proses kelompok anggota penggunaan aturan dan sumber daya dalam interaksi. Poole juga tertarik pada produk kelompok yang diproduksi dan direproduksi melalui interaksi. Penstrukturan (structuration) dalam kelompok adalah proses dimana sistem diproduksi, direproduksi, dan transformasi dari lingkungan sosial melalui pemakaian aturan dan sumber daya oleh anggota-anggotanya (Poole, Seibold, &McPhee, 1996 halaman 117).

Dualitas Struktur
Dualitas struktur mengacu pada gagasan bahwa aturan-aturan dan sumber daya yang Medium dan Outcome dari interaksi . Dalam hal pengambilan keputusan kelompok , ini berarti bahwa keputusan tidak hanya dipengaruhi oleh struktur kelompok , tetapi pada saat yang sama juga memiliki efek pada aturan-aturan dan sumber daya yang sama . Hal ini sangat penting untuk Poole karena membantu menjelaskan mengapa kelompok kadang-kadang stabil dan dapat diprediksi sebagai single - urutan pengembangan kelompok model belum menunjukkan mengapa mereka sering berubah dan tak terduga . Menurut Poole , itu tergantung pada bagaimana anggota kelompok aturan dan sumber daya yang tepat .
stabilitas dan perubahan adalah produk dari proses yang sama. Struktur stabil jika aktor yang sesuai mereka dengan cara yang konsisten, mereproduksi mereka dalam sama dari waktu ke waktu. Struktur juga bisa berubah, baik bertahap atau radikal melalui strukturasi.
Stabilitas

Anda tidak dapat tahu apakah aturan dan sumber daya yang Anda telah digunakan sejauh ini akan bekerja dengan cara yang sama di masa depan? Menurut Poole, konsensus mencari kemerdekaan instruktur yang akan terus diberlakukan dan terus menjadi norma-norma kelompok bahkan setelah ia bergabung kembali dalam kelas. Karena struktur yang ada hanya ketika mereka dimasukkan ke dalam praktek penggunaan atau hilang prinsip strukturasional persatuan dapat mereproduksi aturan dan sumber daya kelompok. Anggota penggunaan terus-menerus dari aturan dan sumber daya yang sama dapat membentuk struktur kelompok dipadatkan seperti batu yang mengendap.
Berubah.
Reproduksi tidak selalu berarti replikasi. Bahkan ketika kelompok stabil muncul, aturan dan sumber daya yang digunakan anggota dapat berubah secara bertahap dari waktu ke waktu melalui proses yang disebut Poole sebagai interpenetrasi struktur. Karena setiap tindakan kelompok mengacu pada beberapa aturan dan sumber daya, frase Poole membantu kita membayangkan bagaimana satu struktur dapat mempengaruhi (atau menginfeksi) yang lain.
Meskipun kelompok mampu menciptakan jalan bagi pemungutan suara dan konsensus untuk hidup berdampingan, Poole mencatat bahwa ada kalanya struktur kelompok yang bertentangan secara langsung, dan masing-masing saling merusak lainnya.
Bagaimana seharusnya kita hidup dalam kelompok?
Klaim Inti dari teori strukturasi adaptif adalah bahwa kelompok-kelompok menciptakan diri mereka sendiri, namun anggota tidak selalu menyadari bahwa mereka membuat dan memperkuat alat-alat yang melakukan pekerjaan. Jika Poole benar, bagaimana seharusnya kita yang menjalani kehidupan kita dengan orang lain dalam suatu kelompok  yang membuat keputusan? Jawabannya adalah implisit dalam hirarki ditunjukkan di bawah ini: Langkahnya adalah menaikkan peran pasif untuk memiliki suara aktif dalam kelompok Anda.
Poole memberi harapan bahwa ilmu pengetahuan tentang bagaimana aturan dan pekerjaan sumber daya akan membekali anggota yang lemah untuk menjadi agen perubahan dalam kelompok mereka. Poole akan mendorongmu untuk mengubah apa yang kamu kejakan dan apa yang kamu katakana melalui jalan yang mudah. Perubahan kecil tidak akan mengancam anggota terkuat yang kadang selalu cenderung menolak perubahan. Namun jika kamu konsisten dan gigih, perubahan kecil ini bisa menggeser arah kelompok dan peranmu di dalamnya. Bagaimana kita akan menjalani hidup kita di dalam kelompok? Yaitu dengan menyadarinya, memerdekakan seperti agen perubahan yang membuat sesuatu itu terjadi. Itu tepi kritis teori strukturasi adaptif.
Kritik : Terkait terhadap Giddens-Untuk yang lebih baik atau lebih buruk
Teori Strukturasi Adaptif adalah salah satu dari tiga teori puncak dari Komunikasi Kelompok. Karena Poole membuat upaya serius untuk menangani dilema perubahan dibandingkan stabilitas, dan teori kebebasan dibandingkan dengan determinasi dalam konteks pembuatan keputusan kelompok. Intinya, dia berkata : Apa yang terjadi ketika sebuah kekuatan yang tak terbendung ( tindakan orang yang dipilih secara bebas ) memenuhi objek bergerak ( struktur kelompok yang tidak mengenal orang ) ? Strukturasi adalah jawabannya-Sebuah resolusi itu keistimewaan pilihan orang dan perhitungan untuk stabilitas dan perubahan.
Kelebihan dari teori ini adalah bahwa teori ini menengahi dikotomi yang terlihat antara tindakan dan struktur yang melekat dalam banyak penelitian kelompok. Ini memberikan perhitungan bagaimana anggota kelompok menghasilkan dan mempertahankan struktur sosial, yang mengakui kreatifitas dan refleksifitas-diri.
Tepi kritis Poole terungkap dalam keinginannya untuk menciptakan dan mempertahankan proses demokrasi dalam pembuatan keputusan kelompok.



Perspektif Optimis dari Penggunaan Internet


Menilik kembali perkembangan teknologi media baru yang semakin pesat, tentu saja menimbulkan banyak kemungkinan yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap masyarakat. Baik itu dampak positif maupun negative yang harus diterima dan ditelaah kembali oleh masyarakat. Karena teknologi sekarang tidak hanya menciptakan sebuah alat tetapi juga mempengaruhi pola pikir konsumennya. Seiring dengan perkembangan teknologi media baru seperti internet, menimbulkan peningkatan pengguna internet yang sangat drastis. Peningkatan akses ke internet juga secara otomatis membawa perubahan sosial yang baru dilihat dari berbagai perspektif. Salah satunya adalah perspektif optimis terhadap penggunaan internet bagi masyarakat.
Perspektif optimis terhadap akses penggunaan internet menunjukkan adanya usaha orang-orang untuk menyediakan sebuah media baru yang dikhususkan bagi kaum disabilitas. Pada 1990, Title IV Americans and Disabilities Act ditujukan kepada isu disabilitas dengan mewajibkan semua operator layanan untuk menyediakan akses komunikasi bagi warga negara Amerika penyandang tuna rungu (Borchert, 1998: 56). Hal ini menunjukkan suatu upaya dari perkembangan media baru yang berusaha untuk menyampaikan dan menyediakan informasi serta kualitas komunikasi yang baik bagi kaum disabilitas. Sehingga tidak akan ada intimidasi atau ancaman bagi para kaum disabilitas untuk memperoleh manfaat dari perkembangan media baru saat ini.
Peningkatan akses pengguna internet yang meningkat drastis juga menyebabkan meningkatnya kegiatan-kegiatan politik yang dipublikasikan di internet. Walaupun sebenarnya pemanfaatan internet dalam bidang politik secara garis besar memberikan perspektif pesimis berupa adanya sebuah dramaturgi yang terus-menerus dilakukan oleh para tokoh politik untuk menarik perhatian masyarakat, yang kemudian justru akan menimbulkan sikap tak acuh dari masyarakat sendiri karena merasa jenuh dengan hal-hal politik dan justru mengurangi partisipasi politik masyarakat.
Internet dapat dijadikan salah satu media kampanye dan survey atas tokoh politik. Bahkan baru-baru ini debat para tokoh politik tentang berbagai isu poitik dapat kita nikmati dalam perdebatan online. Menurut Rheingold (1993) dengan adanya perdebatan online justru meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam hal demokrasi. Internet juga memudahkan masyarakat untuk mencari informasi tentang berbagai isu politik yang terjadi dan menimbulkan suatu respon dari masyarakat itu sendiri sehingga akan tercipta partisipasi politik dan kesadaran politik dari dalam diri masyarakat. Menurut (Loader, 1997; Margolis dan Resnick, 2000) internet dapat mendukung dan membangun aktivitas politik dan pengetahuan kepemerintahan karena  internet itu sendiri melibatkan aspek politik, kepemerintahan, regulasi dan ekonomi yang wajib di pertimbangkan, serta kekuasaan yang kompleks. Jadi dengan adanya internet, masyarakat yang awalnya benar-benar tidak tahu-menahu dan tidak peduli dengan urusan politik setidaknya akan sedikit membuka pikirannya untuk mengetahui perkembangan politik yang sedang terjadi saat ini.
Selanjutnya setiap kali membahas perkembangan era internet, tidak akan pernah terlepas dari komunitas yang diciptakan dari dunia maya ini. Komunitas virtual adalah sebuah bentuk interaksi manusia di dalam dunia maya yang dapat membuat mereka terhubung satu sama lain dan mereka senantiasa dapat berkomunikasi secara interaktif melalui media internet yang merupakan produk inovasi dari new media. Faktor utama dalam pembentukan komunitas virtual adalah peningkatan kemampuan untuk membagi informasi. Sesama anggota yang saling terhubung akan saling berbagi informasi yang mereka miliki dan saling mengenal masing-masing individu melalui pertukaran informasi yang mereka lakukan di internet. Ikatan yang terbentuk di komunitas virtual mungkin  tidak berbentuk nyata, namun mereka masih merepresentasikan tempat dimana orang-orang berhubungan soal ketertarikan yang sama, dukungan, pergaulan, serta identitas (Wellman, 2000). Komunitas virtual ini juga merubah bentuk interaksi dari door-to-door, menjadi person-to-person dan ­role-to-role. Internet juga membawa orang-orang (yang tidak saling kenal) makin dekat, bukan menjauhkan mereka (Johnson, 1997: 69). Tidak hanya itu, dengan internet kita justru bisa mengenal berbagai kebudayaan, etnis, dan adat istiadat lintas Negara karena dengan internet menyatukan dan mendekatkan mereka pada komunitas etnik mereka yang saling berbeda.
Komunitas virtual mungkin dapat menjadi sebuah gerakan counter hegemony bagi mereka yang termarginalisasi, baik secara politik maupun sosial, dan menemukan ruang untuk berekspresi di sana, dan menemukan orang-orang dengan pemikiran yang sama, berbicara secara bebas, dan membangun solidaritas (Lindlof dan Shatzer, 1998: 174). Counter hegemony adalah suatu usaha untuk mengkritik atau sebuah bentuk konfrontasi untuk melawan suatu kebijakan baik itu dalam hal politik dan hal lainnya. Komunitas online dapat memperkuat dan melengkapi, bahkan membuat dan membangun sebuah komunitas fisik atau nyata berdasarkan komunitas virtual, dan juga membuat dan membangun ketertarikan terhadap suatu budaya lokal. Rheingold (1993) menyimpulkan bahwa Internet, membuat orang dapat mengakses dan mentransmisikan informasi yang mungkin tidak dapat dilakukan di dunia nyata.
Lalu bagaimana dengan dampak internet terhadap interaksi sosial? Internet sebagai sebuah kemajuan teknologi menjadi sebuah terobosan terbaru untuk mempermudah akses informasi tentang segala hal bahkan menemukan berbagai informasi yang hilang tanpa harus terbatas oleh waktu, dan letak geografis. Keberadaan internet juga memudahkan kita untuk berkomunikasi dengan orang atau saudara kita yang jauh dengan bertukar foto menggunakan email, dan menggunakan fasilitas email untuk berkomunikasi tanpa batas seperti yang diungkpakan AOL (2000).
Hamman's (1999) mengatakan bahwa komunikasi virtual dapat melengkapi dan membatu membangun hubungan di dunia nyata. Survey yang dilakukan oleh Parks, menemukan bahwa hubungan baik yang dibuat secara online, dapat menuju sebuah interaksi di dunia nyata (Parks dan Roberts, 1999), serta hubungan di dunia nyata tersebut tidak terbatas hanya konteks yang ada di dunia virtual (Parks dan Floyd, 1996). 
Melalui dunia virtual yang dibangun tersebut akan meningkatkan kemampuan berbahasa dan penambahan informasi serta wawasan. Karena para pengguna internet akan dituntut untuk mengerti bahasa universal yaitu Bahasa Inggris agar dapat mengoptimalkan penggunaan internet. Selain itu, melalui internet kita dapat memanfaatkan situs-situs pendidikan dan penambah wawasan agar internet dapat memberikan dampak yang positif bagi penggunanya. Internet dapat menjadi alat komunikasi yang bagus bagi mereka yang kesulitan menemukan teman baru karena keterbatasan fisik, penyakit, atau bahkan kemampuan sosial yang kurang (Wallace, 1999). Jones (1997) menekankan bahwa komunitas online dapat secara khusus mendukung para kelompok sosial yang dimarginalisasi atau diasingkan untuk saling mendukung satu sama lain. Contohnya, para warga lanjut usia merasa mereka tidak sendirian lagi ketika sudah menggunakan SeniorNet (Bollier, 1995: 3).
Sesungguhnya segala bentuk teknologi yang diciptakan tidak hanya membawa kemudahan akses dan kecenderungan dampak negative yang selalu ditakutkan, teknologi yang ada saat ini juga mempengaruhi pola pikir dan pola perilaku penggunanya sehingga masyarakat dituntut untuk bersikap kritis atas segala teknologi yang diterimanya dan dapat menyaring mana yang baik dan mana yang buruk. Karena sesungguhnya teknologi tercipta untuk kemudahan dan perkembangan masyarakat. Bukan untuk membawa manusia ketaraf kehidupan yang semakin buruk. Sehingga masyarakat dituntut untuk mampu mengembangkan dan memanfaatkan teknologi yang ada dengan tujuan perbaikan taraf kehidupan.
Daftar pustaka
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4: Perspective on Internet Use: Access, Involvement and Interaction


Efektivitas Media Rakyat dalam Menunjang Pembangunan

Pembahasan tentang komunikasi pembangunan untuk desa-desa di Indonesia semakin mendesak untuk dilaksanakan. Pada satu sisi, aspek-aspek pembangunan telah mengalami perubahan sejak komunikasi pembangunan dikenal di Indonesia pada awal 1970-an, baik dalam organisasi strategi pembangunan maupun penggunaan media komunikasi. Pada saat ini strategi penanggulangan kemiskinan telah terorganisir dari tingkat internasional, nasional, sampai ke tataran kabupaten/kota. Telekomunikasi yang digunakan mencakup satelit dan internet, yang digabungkan dengan komunikasi interpersonal dari pendamping.
Di negara kita yang tercinta yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan hidup di ladang-ladang pertanian, serta tersebar ke ribuan pulau yang membentang dari Sabang-Merauke, terkadang masih mengalami kesulitan dalam menyebarkan informasi, khususnya informasi pembangunan yang sangat dibutuhkan oleh para petani untuk meningkatkan kualitas maupun kuantitas hasil pertaniannya. Demikian juga untuk masyarakat nelayan, seringnya informasi tentang perkembangan teknologi kelautan sangat terlambat diantisipasi karena kurangnya informasi yang diterima. Bahkan informasi tentang ditangkapnya banyak nelayan kita karena dianggap melewati perbatasan negara tetangga bisa jadi karena faktor ketidaktahuan akan informasi batas ekonomi kelautan.
Format pembangunan Indonesia yang khas negara sedang berkembang, dengan ciri khas penentuan kebijakan ada pada pusat pemerintahan dan nihilnya partisipasi masyarakat membuat pembangunan menjadi hanyalah lips services untuk para penguasa. Sementara sisi kemanfaatannya yang nyata kepada masyarakat boleh dikatakan hampir tidak terasa. Akibatnya, tanpa dukungan masyarakat yang merasa tidak terlibat, terjadilah gap yang sangat jauh antara masyarakat pedesaan atau lingkup masyarakat tradisional dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Hal ini, mengakibatkan ketidakberimbangan antara banyaknya informasi yang disampaikan dengan menggunakan teknologi  komunikasi yang semakin canggih dibandingkan proses penerimaan informasi tersebut kepada masyarakat luas, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan atau tradisonal.
Memaksa masyarakat menjadi pengguna teknologi komunikasi dan informasi maju hanya akan menjadikan masalah baru. Tanpa dukungan pemahaman dan pendidikan yang betul justru akan dikhawatirkan memunculkan beragam masalah baru. Seperti ideologi baru yang serba permisif, atau runtuhnya nilai budaya timur yang sarat dengan makna dan nilai. Bahkan termasuk mereka yang sudah berpendidikan pun di kota-kota besar. Contoh nyata adalah pengakses situs pornografi terbesar di di dunia, Indonesia merupakan rangking 4. Untuk kawasan Asia Tenggara Indonesia merupakan pengakses terbesarnya. Tentu saja tanpa proses pengetahuan dan pemahaman yang betul justru yang terjadi adalah penjerumusan ke dalam kesalahan besar berikutnya.
Disinilah perlu diupayakan mencari sebuah pendekatan penyampaian informasi dari pemerintah kepada masyarakat khususnya pedesaan secara tepat. Membiarkan mereka tanpa informasi yang memadai juga akan berpengaruh negatif, karena jarak sosial dengan masyarakat perkotaan akan semakin jauh. Sedangkan membiarkan mereka mengakses informasi juga akan berpengaruh yang negatif pula. Dari sinilah, penelitian tentang penggunaan media yang selama ini ada pada masyarakat pedesaan penting untuk mendapat perhatian khusus. Mereka tidak perlu mencari sesuatu yang baru, tetapi harus menghidupkan media informasi yang tepat digunakan untuk mampu menerima informasi dari pemerintah khususnya tentang pembangunan. Karena pada saat otonomi daerah diberlakukan tuntutan untuk mandiri pada masyarakat menjadi sebuah kewajiban. Dan media rakyat ini, juga dapat dijadikan sarana yang tepat untuk menjadi corong pemerintah sebagai media penyampaian pesan kepada masyarakat pedesaan.

Media Rakyat

          Pada masyarakat pedesaan dimana sebagian besar mereka adalah masyarakat tradisional terdapat berbagai media sosial sebagai sarana efektif saling berinteraksi. Media ini telah sejak lama tumbuh dan berkembang bersama masyarakat dan menjadi media sosialisasi nilai-nilai antar warga masyarakat, bahkan dari generasi ke generasi. Media ini dikenal sebagai media rakyat.
          Media sosial adalah wahana komunikasi atau pertukaran informasi yang telah terpola dalam kehidupan sosial suatu komunitas masyarakat. Media sosial menuntut keterlibatan secara fisik individu dalam proses komunikasi (Sigman;124). Media sosial menggunakan komunikasi tatap muka dalam bentuk komunikasi antar personal maupun komunikasi kelompok. Disini proses keterlibatan anggota menjadi sangat penting. Media rakyat ini digambarkan sebagai media yang murah, mudah, bersifat sederajat, dialogis, sesuai dan sah dari segi budaya, bersifat setempat, lentur menghibur dan sekaligus memasyarakat juga sangat dipercayaoleh kalangan masyarakat pedesaan yang kebetulan menjadi kelompok sasaran utama (Oepen;hal 88).
          Media rakyat sering muncul dalam bentuk kesenian daerah atau kebudayaan tradisonal daerah. Kesenian atau budaya daerah digunakan sebagai wahana untuk memperkenalkan dan memberikan pesan-pesan pembangunan kepada masyarakat pedesaan. Karena warga masyarakat pedesaan masih menyukai dan membutuhkan budaya atau kesenian tradisional sebagai sebuah bentuk hiburan maka media ini juga menjadi sarana yang sangat tepat sebagai media tranformasi nilai-nilai, termasuk pesan-pesan pembangunan dari pemerintah. Pesan-pesan pembangunan disisipkan secara implisit dan kreatif sehingga terasa menyatu dengan media rakyat (Yuni Setyaningsih ;2000).
          Ada banyak macam media rakyat yang selama ini tumbuh, berkembang di masyarakat, namun banyak pula yang hilang karena ditinggalkan penggemarnya dan tidak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman. Pemilihan media rakyat yang mana yang bisa digunakan untuk menyebar luaskan ide-ide pembangunan adalah sangat penting untuk mendukung efektifitas pesan. Pilihan hendaknya dijatuhkan pada media rakyat yang paling disukai oleh sebagian besar masayarakat setempat (Colleta dan Kayam ; hal 235).
          Media rakyat dalam bentuk seni rakyat (folk culture) diyakini dapat lebih mudah digunakan sebagai sarana menyebar luaskan informasi pembangunan karena media tersebut telah ada dan dekat dalam kehidupan masyarakat setempat. Dengan media rakyat, masyarakat akan ikut serta merasa memiliki atau terlibat dalam pembuatannya, sehingga memungkinkan tersampaikannya pesan-pesan pembangunan secara lebih efektif. Induksi nilai-nilai yang sifatnya evolutif dan menyatu dengan masyarakat dapat membuat masyarakat merasa tidak dipaksa untuk mengadopsi nilai-nilai baru.
          Upaya penyebaran informasi pembangunan yang disampaikan melalui media yang ada bagi setiap masyarakat bangsa berbeda-beda disebabkan oleh struktur dan sistem masyarakat yang berbeda pula. Bagi masyarakat bangsa yang sudah linier dalam arti pengertian berbagai masalah sudah diketahui dan dimiliki oleh bagian terbesar anggota masyarakat, komunikasi melalui media massa modern akan lebih menguntungkan, namun bagi masyarakat yang mempunyai struktur dan sistem sosial yang majemuk, penyebaran informasi melalui media massa masih memerlukan upaya dengan media tradisional yang ada dalam masyarakatnya (Rogers 1971 : 165).
          Dalam komunikasi tradisional di pedesaan, penggunaan pertunjukan rakyat sebagai media komunikasi mempunyai potensi besar untuk mencapai rakyat banyak, terutama sekali karena media tersebut memiliki daya tarik yang sangat kuat dan berakar di tengah-tengah masyarakat. Media tradisional merupakan alat komunikasi yang sudah lama digunakan di suatu tempat (bersifat lokal) yaitu sebelum kebudayaannya tersentuh oleh teknologi modern dan sampai sekarang masih digunakan di daerah itu. Media ini akrab dengan massa khalayak, kaya akan variasi, dengan segera tersedia, dan berbiaya rendah. Media ini dengan segala kelebihannya memiliki potensi yang dimiliki oleh pertunjukan rakyat dan sangat efektif untuk menyampaikan pesan-pesan komunikasi pembangunan, apalagi ketika dikhususkan pada saat otonomi daerah diberlakukan.
          Bila melihat tujuan komunikasi pembangunan yang tidak sekedar bagaimana terciptanya perubahan sikap, pendapat atau perilaku individu atau kelompok, melainkan perubahan masyarakat atau perubahan sosial (AS Achmad : 1997). Untuk itu, diperlukan berbagai sarana yang bisa memerankan posisi yang sangat penting tersebut, termasuk penggunaan media rakayat tradisional yang sudah ada. Disini, pemerintah diharapkan tanggapan yang positif untuk memelihara dan mempertahankan setiap media rakyat ini bukan sekadar digunakan untuk fungsi hiburan masyarakat saja, tetapi dapat dimanfaatkan secara lebih optimal dalam tujuan pembangunan nasional di negara kita.
Kondisi sekarang mengharuskan adanya arus dua tahap dalam komunikasi kepada masyarakat tradisional. Bahkan pengakuan akan pentingnya peran komunikasi antar individu mau tidak mau harus diberikan. Sebuah arus komunikasi dari media massa ke para pemimpin pembentuk pendapat umum (opinion leaders) dan mereka melalui komunikasi antar individu disalurkan kepada masyarakat umum. Demikian juga tentang penerimaan terhadap pesan, lebih sering ditentukan olek kaitan sosial budaya dan kepercayaan terhadap sumber informasi daripada oleh isi dan bentuknya. Khususnya bila menyangkut masyarakat pedesaan. Media massa pada dasarnya tidak dikenal atau anonim dan meskipun media massa dapat menari dan mempesona orang banyak, namun pengalaman menunjukkan bahwa kadarnya hanya kebanyakan bersifat menghibur.
Ditemukannya budaya sebagai suatu dimensi baru dari pembangunan dalam strategi perubahan sosial pada tahun 1970-an memberikan penekanan pada pentingnya soailisasi budaya dan aspek aktif dari budaya yang didefinisikan sebagai pemahaman bersama yang dikomunikasikan melalui lambang-lambang serta dimanifestasikan dalam nilai-nilai, norma dan lembaga-lembaga fungsional yang memberikan identitas pribadi sebagai anggota kelompok masyarakat dalam wilayah geografis yang terbatas (Colleta 1975). Kekuatan budaya terletak pada potensi kreatifnya untuk mempertahankan keseimbangan dan pelestarian tradsisi dalam penyesuaian terhadap perubahan sosial (Gaulet 1979).
  Ini berarti menurut Colleta, merujuk kasus Indonesia, memelihara tipe pembangunan yang lahir dari lembaga-lembaga budaya yang ada, bukannya tipe pembangunan sebagai hasil injkesi unsur-unsur asing. Ini melengkapi pendekatan ‘paradigma baru’ yang menghendaki orientasi pada lapisan rakyat paling bawah, desentralisasi, partisipasi dan pengembangan diri. Karena dalam banyak hal, sebuah perubahan sosial selalu berarti menimbulkan banyak persoalan, maka partisipasi dari rakyat atau masyarakat yang terkena atau dipengaruhi oleh perubahan dalam pelbagai kegiatan mulai dari perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi penilaian. Pada kasus Indonesia menunjukkan jaringan komunikasi tradisional antar orang perorang terbukti merupakan dasar atau basis tidak hanya untuk hubungan sosial tetapi juga untuk informasi pembangunan yang khusus serta perubahan yang diarahkan, bahkan juga di daerah-daerah dimana media massa telah mempengaruhi kehidupan mereka (Adhikarya 1974; Sartono 1984).
  Orientasi tingkah laku pada masyarakat tradisional memungkinkan untuk menonjolkan komunikasi dua arah antara perencana proyek dan mereka yang akan menerima amnfaat dari proyek itu dengan tujuan untuk bisa mendorong partisipasi aktif mereka dalam proyek itu. Dalam pada itu, sebagai suatu sektor khusus strategi media massa dapat dihentikan dan sebagai gantinya komunikasi diintegrasikan secara langsung dengan apa yang dianggap sesuai dengan kondisi budaya masyarakat setempat, media tradisonal atau media rakyat yang ada.

Urgensi Media Rakyat

  Dengan melihat dan membandingkan sistem komunikasi yang ada di Indonesia dan kondisi realitas masyarakat yang mayoritas tinggal di daerah pedesaan mengharuskan untuk mencari media yang tidak massal dan agar tersedia suatu sistem yang mampu menyertakan dan memberi kesempatan kepada rakyat pedesaan di dalam perencanaan pembangunan lokal daerahnya termasuk bab otonomi daerah.
Berrigan (1979) mendefinisikan media rakyat sebagai media yang bertumpu pada landasan yang lebih luas daripada kebutuhan dan kepentingan semua khalayaknya. Media rakyat adalah adaptasi media untuk digunakan oleh masyrakat yang bersangkutan, apapun tujuannya dan ditetapkan oleh masyarakat itu. Media ini adalah media yang memberi kesempatan kepada warga masyarakat untuk memperoleh informasi, pendidikan, hiburan, bila mereka menginginkan kesempatan itu. Media ini adalah media yang menampung partisipasi masyarakat sebagai perencana, pemroduksi sekaligus pelaksana. Media ini adalah sasaran bagi masyarakat untuk mengemukakan sesuatu, bukan untuk menyatakan sesuatu kepada masyarakat. Komunikasi masyarakat mengungkap pertukaran pandangan dan berita, bukan penyaluran dari satu sumber kepada pihak lain. Community Media for Rural Mobilization memberikan definisi sebagai media yang dikembangkan dan dikelola oleh orang-orang yang mempunyai nilai-nilai dan cita-cita atau kehendak yang sama di sebuah wilayah yang segi geografisnya kecil dan yang menggalakkannya didapat juga mengacu pada media yang melayani kelompok-kelompok sektoral.
Adapun proyek-proyek media rakyat yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut :
1.    melayani masyarakat yang dikenal
2.    pada mulanya bukan karena pertimbangan komersial
3.    mendorong demokrasi partisipasi yang mengakui hak kemajemukan idiologi, dan karenanya bertentangan dengan rasialisme, perbedaan jenis kelamin dan sikap-sikap diskriminatif lainnya
4.    menawarkan kesempatan bagi setiap anggota masyarakat untuk memulai menjalin komunikasi, disamping ikut serta di setiap tahap proses perencanaan, produksi, distribusi dan evaluasi
5.    menggunakan teknologi tepat guna sampai ke tingkat penggunaan yang tidak profesional bila ditilik dari segi ekonomi dan tidak menciptakan ketergantungan
6.    ada berdasar anggapan bahwa mereka yang terlibat berhak dan berperan serta dalam artian ekonomi dan politik yang konteks kemasyarakatannya lebih luas daripada proses media rakyat lokal guna mewujudkan redistribusi kekuasaan
7.    beroperasi berdasar anggapan bahwa informasi dihasilkan sebagai pantulan kenyataan para peserta sendiri, bukan dari luar
8.    mendorong dan memperbaiki cara pemecahan masalah
9.    membantu orang berbagai peranan dan kewajiban dalam membangkitkan tindakan bersama
10. pada pertamanya diarahkan untuk memberi pelayanan umum, walaupun dapat juga media rakyat ini dimanfaatkan untuk menghasilkan dan dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan pendapat
11. menggunakan acuan atau indikator lainnya untuk menunjukkan jangkauan geografis seperti kilowatt dalam hal media berupa pemancar
12. beroperasi sebagai badan otonom dan karenanya bebas dari pusat-pusat kekuasaan
13. melokalisasikan isi program-programnya agar cocok dengan kebutuhan khusus khalayak sasaran
14. menggunakan sumber daya komunikasi masyarakat setempat
15. mempunyai jaringan hubungan dengan organisasi-organisasi masyarakat lokal lainnya sebagai sumber atau sumber daya media rakyat

Dengan kondisi kebanyakan masyarakat tinggal di daerah pedesaan media rakyat bisa memberi saluran alternatif sebagai sarana bagi rakyat untuk mengemukakan kebutuhan dan kepentingan mereka. Media rakyat dapat berguna menyeimbangkan pemihakan kepada darah perkotaan yang tercermin dalam isi media massa. Media rakyat akan membantu menjembatani kesenjangan antara pusat dan pinggiran dan mencegah membesarnya rasa kecewa, rasa puas diri dan keterasingan di kalangan penduduk pedesaan. Program-program pemerintah tentang informasi, pendidikan, komunikasi juga otonomi dapat berfungsi dengan seimbang karena dukungan partisipasi langsung masyarakat pedesaan. Sehingga target yang dicapai dapat terlaksana dengan optimal.
Intinya, sistem komunikasi massa dengan media modern sama sekali tidak menggantikan sistem komunikasi tradisional yang didasarkan pada jaringan antar perorangan. Sebaliknya, sistem komunikasi tradisional dengan media rakyat tampak nyata di daerah-daerah pedesaan dan bahkan dalam derajat yang tinggi di perkotaan. Bahkan untuk menyebutnya sebagai perbedaan, media tradisional dan media kelompok mendorong adanya interaksi sosial sedangkan media massa biasanya justru menghalanginya. Jadi, dengan kendala-kendala pada harga, daya jangkau, liputan dan isi pesan media massa tidak memegang peranan penting dalam kegiatan komunikasi pembangunan termasuk bab otonomi daerah bagi rakyat pedesaan Indonesia, dan bahkan belum pula berperan pada masa-masa dekat mendatang (Susanto 1978; Dahlan 1978, 1984).
Penutup
Perkembangan tekonologi komunikasi dan informasi dewasa ini telah berkembang dengan sangat cepat termasuk pula di Indonesia. Tentu saja ini memberikan efek atau pengaruh yang ditimbulkan baik positif atau negatif. Mayoritas masyarakat Indonesia tinggal di daerah pedesaan. Untuk itu, diperlukan upaya-upaya dan program-program untuk meningkatkan kualitas pembangunan agar tidak semakin tertinggal dengan masyarakat perkotaan.
Untuk mengejar ketertinggalan dan melaksanakan pembangunan termasuk masalah otonomi daerah yang bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat tidak bisa bergantung pada satu program dari pusat (top-down) dan juga satu media, apalagi media massa yang rendah daya terimanya di masyarakat pedesaan. Tapi, diperlukan keterlibatan nyata berupa partisipasi masyarakat dalam menunjang program pemerintah tersebut. Dan, salah satu media yang dapat dijadikan sarana untuk melibatkan masyarakat adalah menggunakan media rakyat, yang terbukti efektif dan tidak pernah berubah dalam kehidupan masyarakat tradisional. Dengan ini diharapkan semua pihak baik pemerintah dan masyarakat bisa menggunakan media rakyat dengan tepat dan efektif.

Daftar Pustaka
Achmad,A.S., 1997, Komunikasi dan Pembangunan Nasional, Universitas Terbuka, Jakarta.
Oepen, Manfred, 1988, Media Rakyat Komunikasi Pengembangan Masyarakat, P3M, Jakarta.
Rogers, Everett M, 1992, Komunikasi dan Pembangunan Perspektif Kritis, LP3ES, Jakarta.


Start Work With Me

Contact Us
SILVIA ARIYA MARETA
+6285643137317
Purwokerto, Indonesia